Halaman

Sabtu, 31 Maret 2012


CINTA: UNGKAPAN YANG SERING DISALAHTAFSIRKAN

Kalimah cinta sering diucapkan, namun keseringan kita menyebut cinta belum bermakna kita sudah mempunyai pengertian yang tepat mengenainya. Akibatnya, cinta sering disalahtafsirkan. Salah tafsiran mendorong kepada salah tindakan. Daripada sesuatu yang mahal dan murni sifatnya, cinta bertukar menjadi salah satu yang termurah dan tercemar. 
Kerap kali, cinta menjadi sesuatu yang pedih, jijik dan mengecewakan. Kecewa bercinta, 'cinta monyet' dan sebagainya sudah tidak asing lagi dikalangan remaja. Ramai yang telah menderita kerana cinta. Lalu berderetanlah korban cinta sepanjang zaman seperti Romeo dan Juliet, Uda dan Dara dan Anthony dan Cleopatra. 
Sebelum mengaitkan cinta dan perkahwinan, adalah lebih baik jika diperjelaskan falsafah cinta itu terlebih dahulu. Ini bukanlah persoalan ilmiah yang menurut perahan akal tahap sarjana, tetapi perbahasan mudah yang melibatkan fitrah dan rasa. Justeru cinta adalah fitrah yang dikurniakan Tuhan kepada setiap manusia. 
Ingin menyintai dan dicintai adalah keperluan semulajadi yang perlu diisi. Hati memerlukan cinta, sama seperti jasad memerlukan makanan. Begitu juga manusia memerlukan agama sebagai petunjuk. Anehnya,apa yang kita rasai tidak semestinya kita fahami. Lalu apakah sebenarnya cinta itu? Mari kita mencari jawapan yang benar logikal dan pratikalnya yang boleh diterima berdasarakan konsep Islam sebenar.
CINTA DAN PENCIPTANYA
Untuk mengetahui segala-galanya tentang cinta, manusia perlu merujuk kepada pencipta cinta itu sendiri yakni Allah SWT. Tuhan menciptakan cinta, maka Dialah yang Maha Mengetahui sifat dan rahsianya. Cinta itu indah kerana diciptakan oleh Allah Yang Maha Indah. Sabda Rasulullah SAW:-
                        " Allah itu indah dan cintakan keindahan"
            Bukan saja indah, cinta yang diciptakan Allah itu bertujuan untuk menyelamatkan, mententeramkan dan membahagiakan manusia. Tidak kira sama ada dalam komunikasi antara manusia dengan Tuhan. 
Allah SWT tidak mengurniakan rasa cinta semata-mata, tetapi Allah juga mengurniakan 'hukum' cinta yang mesti dipatuhi demi mencapai maksud penciptaannya. Dengan 'hukum' itu, Allah SWT mengatur agar cinta sentiasa selamat dan menyelamatkan. Begitulah cinta dalam Islam, ia mempunyai kaedah dan peraturan demi menjaga kemurnian dan kesuciannya. Selagi manusia berpegang kepada peraturan ini, selagi itulah cinta terpelihara dalam sifat fitrahnya yang asal, yakni murni, indah dan mententeramkan. 
Tidak kira di mana dan dalam keadaan apa sekalipun, selagi cinta mematuhi hukum Allah, selagi itulah ia indah. Inilah faktor penentu keindahan cinta sama ada sebelum atau selepas perkahwinan. Dalam dua keadaan, yang mana satu lebih memudahkan hukum cinta itu dipatuhi? Sebelum atau selepas perkahwinan? 
Untuk menjawabnya, kita terpaksa merujuk kepada kenyataan awal semula, yakni cinta adalah fitrah dari Allah yang ada peraturannya. Untuk mendapat cinta yang sejati dan berkekalan, peraturan ini mesti dipatuhi. 
Peraturan pertama yang perlu dipatuhi ialah cinta itu mesti dibina atas dasar cinta Allah. Cintalah sesiapa pun tetapi mestilah kerana Allah. Namun meletakkan cinta hanya untuk dan kerana Allah tidaklah menghalang meletakkan cinta kepada yang lain. Islam membenarkan seorang ibu mencintai anaknya, seorang rakyat menyintai pemimpinnya, seorang isteri menyintai suaminya, malah seorang wanita terhadap lelaki dan sebaliknya... tetapi dengan syarat cinta itu mestilah diletakkan atas dasar cinta Allah. Bagi memudahkan bicara agar mudah di fahami, segala apa yang ingin dicintai, kecintaan kepada Allah dan Rasul mestilah menjadi keutamaan. 
APA TANDANYA KITA MENYINTAI SESEORANG ATAS DASAR CINTAKAN ALLAH? 
Jawapannya di sini:-
Pertama, mestilah dipastikan kecintaan itu tidak melebihi cinta kepada Allah. Kita akan sentiasa mendahulukan kehendak kecintaan utama kita (Allah) daripada kehendak kecintaan-kecintaan kita yang lain. Pertemuan antara cinta Allah dan kecintaan kepada yang lain tidak seharusnya berlaku sekiranya cinta Allah mendapat keutamaan tertinggi dan cinta-cinta lain diatur serta dirujukkan kepada Allah. 
Kedua, cinta itu mestilah tidak melanggar batas-batas syariat. Jangan cinta menyebabkan kita berdosa kerana tidak melaksanakan apa yang diperintahkanNya dan melanggar apa yang dilarangNya. Cinta yang sejati tidak bertuankan nafsu. Apabila dua syarat ini dilanggar, maka cinta tidak akan murni dan berkekalan lagi. Inilah punca patahnya cinta selepas perkahwinan. Tetapi, sekiranya dua hukum cinta dipatuhi, maka disinilah pula letaknya keindahan cinta selepas perkahwinan. 
            AWAS!!!! Jangan putusnya cinta diri musnah seolah2 tidak berakal. Guna nikmat akal dengan berfikir secara waras apabila menempuhi alam percintaan. Allahlah yang adil dalam meletakkan sesuatu ke atas hambanya.
Wallahua'lam.
Segala yang baik dari Allah dan yang kurang dari kelemahan diri saya sendiri. Sebenarnya hakikat kedua2 itu adalah dari Allah s.w.t.

Senin, 26 Maret 2012




Jangan Terlalu Terpaku pada Penyesalan

PERNAH menyesal? Merasa percuma? Memang.
Hanya menyesal memang percuma.
Karena yang lebih penting adalah memperbaikinya.

Siapa sih yang enggak pernah menyesal?
Ada saja hal-hal yang bisa bikin kita menyesal setengah mati.
Bayangkan, bagaimana enggak menyesal kalau sebenarnya ada banyak hal yangbisa kita lakukan seandainya kemarin kita tidak rajin buang waktu.
Kita menyesal karena kurang optimal hingga kemampuan kita hanya
begini-begini saja, padahal sebetulnya kita bisa lebih.
Atau kita menyesal karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Bicara soal penyesalan tidak akan pernah ada habisnya.
Kita juga pastinya sudah bosan dengan pepatah, penyesalan selalu datang
terlambat.
Tiba-tiba saja kita menyesal karena saat menjelang ujian kita tidak
mempersiapkan diri dengan optimal. Padahal, kalau saja kita mengurangi
jatah di depan televisi, di game center, untuk belajar, pasti bisa lulus.
Ah, kalau saja kita berani tegas menolak pacar untuk menemani doi belajar
di rumahnya, berdua saja, pasti ini semua enggak akan terjadi! MBA deh...
aduh, andai saja ini semua enggak terjadi, pasti sekarang kita enggak akan
sedih begini.
Penyesalan selalu datangnya
TERLAMBAT!!
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kenapa penyesalan selalu datangnya terlambat?
Klise banget ya ngomongin soal ini.Dampak buruk dari apa yang kita lakukan saat ini biasanya enggak pernah kita hitung.
Ini terjadi karena ternyata kita lalai. Kelalaian yang sederhana begini
ini yang akhirnya sering membuat kita kelimpungan.
Karena kita lalai dalam belajar, akhirnya enggak lulus ujian. Atau karena
lalainya kita untuk mengatur waktu dan keuangan, anggaran kita jebol untuk
hal-hal yang ternyata enggak begitu penting. Kita lupa bahwa ada hal lain yang lebih penting. Andai saja kita tidak lalai dan berani bersikap tegas untuk mau disiplin dan mengikuti norma yang kita miliki, mungkin dampaknya tidak merusak masa depan, membubarkan mimpi-mimpi kita. Wah, serem banget ya...! Dan, itu semua hanya karena satu kata:
LALAI!
Kalau dilihat lebih jauh lagi ke belakang, ini semua terjadi karena ternyata kita tidak disiplin.
Ada banyak hal yang ternyata mengganggu dan mengalihkan perhatian dari semua hal yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita.Gangguan-gangguan ini ternyata sanggup mengalahkan diri kita, membuat kitajadi tergoda dan akhirnya malah membuat kita melenceng dari yang seharusnya.Misalnya saja, saat muncul godaan-godaan itu, yang ada dalam hati kita malah penyangkalan dan pembenaran atas apa yang seharusnya kita lakukan meskipun kita tahu itu tidak seharusnya kita lakukan. Saat seharusnya kita belajar, mungkin kata yang terbersit dalam hati adalah, Ah... sebentar lagi deh. Filmnya lagi seru nih, atau saat seharusnya langsung pulang, tapi malah memutuskan untuk mampir ke mal dulu, mungkin yang terbersit adalah, Iseng ah, lihat-lihat dulu. Boleh dong refreshing....Salah enggak sih? Ya salah. Sedih enggak? Ya sedihlah....
Tapi kita
kan enggak bisa terus-menerus bersedih. Walaupun penyesalan selalu datangnya terlambat, tapi bukan berarti kita boleh sedih sepanjang masa.
Okelah kalau saat ini kita gagal dalam ujian. Okelah saat ini nilai kita jeblok. Tapi, jangan sampai kejadian lagi deh gagal ujian yang sama sampai dua kali! Akhirnya kita harus bisa bangkit dan buktikan kalau kita bisa mengerjakan soal-soal itu jauh lebih baik. Sama juga halnya dengan kelalaian kita dalam hal manajemen waktu dan keuangan. Jangan mau lagi kebablasan di lain waktu.
Sekarang saatnya
BANGKIT !!!!
Namanya juga manusia.
Pasti pernah bikin kesalahan.
Jadi, melakukan kesalahan itu normal.
Menyesal belakangan juga normal.
Tapi, menjadi tidak normal ketika kita terlalu tekun menikmati penyesalan itu tanpa memikirkan jalan keluarnya. Tanpa bertekad untuk tidak mengulangi untuk yang kedua kalinya. Tahu enggak, Karena kita yang paling tahu diri kita, maka kita jadi punya super banyak alasan untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Kita jadi lupa pada rencana-rencana kita. Alasan-alasan nakal yang kita buat sendiri inilah yang bikin kita menyesal nantinya. Ngaku deh, pasti pada saat kita sibuk berargumentasi pada diri sendiri saat akan melakukan kesalahan, hati kecil bilang, Jangan! Tapi kita jalan terus.

Semua sudah terjadi.
Apa pun yang kita lakukan, kesalahan tetap kesalahan. Kita tidak akan pernah
bisa mentolerir semua bentuk kesalahan yang sudah kita lakukan. Lantas apa
yang bisa kita lakukan?

Terima dan akui bahwa kita memang melakukan kesalahan.

Kenali dan sadari apa kesalahan kita. Ini membantu kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Wake up, guys! Kesalahan yang telah lalu jangan jadi penghalang untuk memberi yang terbaik dari yang bisa kita berikan!

Tetapkan tujuan dan mulai melangkah dengan optimistis.

So, guys... bukan berarti kita jadi melegalkan semua kesalahan kita, lho.
Semua yang salah tetap salah. Hanya saja kita harus punya keberanian untuk
menatap hari esok, jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk sekadar
menyesali semua kelalaian kita.

Yang penting kemudian adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan
pengalaman-pengalaman ini untuk mengembangkan diri menjadi diri yang lebih
baik dalam hal pengendalian disiplin diri. Kalau kita bisa terpacu untuk menjadi lebih baik, pastinya tidak ada masalah yang tidak bisa kita atasi, bukan?

Sebenarnya semua godaan yang kita alami setiap hari itu membuat hidup kita
lebih indah. Kalau kita berhasil mengatasinya, kita bakal jadi manusia hebat. Sepuluh tahun ke depan, dunia ini akan jadi lebih baik karena berisi orang-orang hebat. KITA..!

Jangan Terlalu Terpaku pada Penyesalan

PERNAH menyesal? Merasa percuma? Memang.
Hanya menyesal memang percuma.
Karena yang lebih penting adalah memperbaikinya.

Siapa sih yang enggak pernah menyesal?
Ada saja hal-hal yang bisa bikin kita menyesal setengah mati.
Bayangkan, bagaimana enggak menyesal kalau sebenarnya ada banyak hal yangbisa kita lakukan seandainya kemarin kita tidak rajin buang waktu.
Kita menyesal karena kurang optimal hingga kemampuan kita hanya
begini-begini saja, padahal sebetulnya kita bisa lebih.
Atau kita menyesal karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Bicara soal penyesalan tidak akan pernah ada habisnya.
Kita juga pastinya sudah bosan dengan pepatah, penyesalan selalu datang
terlambat.
Tiba-tiba saja kita menyesal karena saat menjelang ujian kita tidak
mempersiapkan diri dengan optimal. Padahal, kalau saja kita mengurangi
jatah di depan televisi, di game center, untuk belajar, pasti bisa lulus.
Ah, kalau saja kita berani tegas menolak pacar untuk menemani doi belajar
di rumahnya, berdua saja, pasti ini semua enggak akan terjadi! MBA deh...
aduh, andai saja ini semua enggak terjadi, pasti sekarang kita enggak akan
sedih begini.
Penyesalan selalu datangnya
TERLAMBAT!!
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kenapa penyesalan selalu datangnya terlambat?
Klise banget ya ngomongin soal ini.Dampak buruk dari apa yang kita lakukan saat ini biasanya enggak pernah kita hitung.
Ini terjadi karena ternyata kita lalai. Kelalaian yang sederhana begini
ini yang akhirnya sering membuat kita kelimpungan.
Karena kita lalai dalam belajar, akhirnya enggak lulus ujian. Atau karena
lalainya kita untuk mengatur waktu dan keuangan, anggaran kita jebol untuk
hal-hal yang ternyata enggak begitu penting. Kita lupa bahwa ada hal lain yang lebih penting. Andai saja kita tidak lalai dan berani bersikap tegas untuk mau disiplin dan mengikuti norma yang kita miliki, mungkin dampaknya tidak merusak masa depan, membubarkan mimpi-mimpi kita. Wah, serem banget ya...! Dan, itu semua hanya karena satu kata:
LALAI!
Kalau dilihat lebih jauh lagi ke belakang, ini semua terjadi karena ternyata kita tidak disiplin.
Ada banyak hal yang ternyata mengganggu dan mengalihkan perhatian dari semua hal yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita.Gangguan-gangguan ini ternyata sanggup mengalahkan diri kita, membuat kitajadi tergoda dan akhirnya malah membuat kita melenceng dari yang seharusnya.Misalnya saja, saat muncul godaan-godaan itu, yang ada dalam hati kita malah penyangkalan dan pembenaran atas apa yang seharusnya kita lakukan meskipun kita tahu itu tidak seharusnya kita lakukan. Saat seharusnya kita belajar, mungkin kata yang terbersit dalam hati adalah, Ah... sebentar lagi deh. Filmnya lagi seru nih, atau saat seharusnya langsung pulang, tapi malah memutuskan untuk mampir ke mal dulu, mungkin yang terbersit adalah, Iseng ah, lihat-lihat dulu. Boleh dong refreshing....Salah enggak sih? Ya salah. Sedih enggak? Ya sedihlah....
Tapi kita
kan enggak bisa terus-menerus bersedih. Walaupun penyesalan selalu datangnya terlambat, tapi bukan berarti kita boleh sedih sepanjang masa.
Okelah kalau saat ini kita gagal dalam ujian. Okelah saat ini nilai kita jeblok. Tapi, jangan sampai kejadian lagi deh gagal ujian yang sama sampai dua kali! Akhirnya kita harus bisa bangkit dan buktikan kalau kita bisa mengerjakan soal-soal itu jauh lebih baik. Sama juga halnya dengan kelalaian kita dalam hal manajemen waktu dan keuangan. Jangan mau lagi kebablasan di lain waktu.
Sekarang saatnya
BANGKIT !!!!
Namanya juga manusia.
Pasti pernah bikin kesalahan.
Jadi, melakukan kesalahan itu normal.
Menyesal belakangan juga normal.
Tapi, menjadi tidak normal ketika kita terlalu tekun menikmati penyesalan itu tanpa memikirkan jalan keluarnya. Tanpa bertekad untuk tidak mengulangi untuk yang kedua kalinya. Tahu enggak, Karena kita yang paling tahu diri kita, maka kita jadi punya super banyak alasan untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Kita jadi lupa pada rencana-rencana kita. Alasan-alasan nakal yang kita buat sendiri inilah yang bikin kita menyesal nantinya. Ngaku deh, pasti pada saat kita sibuk berargumentasi pada diri sendiri saat akan melakukan kesalahan, hati kecil bilang, Jangan! Tapi kita jalan terus.

Semua sudah terjadi.
Apa pun yang kita lakukan, kesalahan tetap kesalahan. Kita tidak akan pernah
bisa mentolerir semua bentuk kesalahan yang sudah kita lakukan. Lantas apa
yang bisa kita lakukan?

Terima dan akui bahwa kita memang melakukan kesalahan.

Kenali dan sadari apa kesalahan kita. Ini membantu kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Wake up, guys! Kesalahan yang telah lalu jangan jadi penghalang untuk memberi yang terbaik dari yang bisa kita berikan!

Tetapkan tujuan dan mulai melangkah dengan optimistis.

So, guys... bukan berarti kita jadi melegalkan semua kesalahan kita, lho.
Semua yang salah tetap salah. Hanya saja kita harus punya keberanian untuk
menatap hari esok, jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk sekadar
menyesali semua kelalaian kita.

Yang penting kemudian adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan
pengalaman-pengalaman ini untuk mengembangkan diri menjadi diri yang lebih
baik dalam hal pengendalian disiplin diri. Kalau kita bisa terpacu untuk menjadi lebih baik, pastinya tidak ada masalah yang tidak bisa kita atasi, bukan?

Sebenarnya semua godaan yang kita alami setiap hari itu membuat hidup kita
lebih indah. Kalau kita berhasil mengatasinya, kita bakal jadi manusia hebat. Sepuluh tahun ke depan, dunia ini akan jadi lebih baik karena berisi orang-orang hebat. KITA..!
  
Jangan Terlalu Terpaku pada Penyesalan

PERNAH menyesal? Merasa percuma? Memang.
Hanya menyesal memang percuma.
Karena yang lebih penting adalah memperbaikinya.

Siapa sih yang enggak pernah menyesal?
Ada saja hal-hal yang bisa bikin kita menyesal setengah mati.
Bayangkan, bagaimana enggak menyesal kalau sebenarnya ada banyak hal yangbisa kita lakukan seandainya kemarin kita tidak rajin buang waktu.
Kita menyesal karena kurang optimal hingga kemampuan kita hanya
begini-begini saja, padahal sebetulnya kita bisa lebih.
Atau kita menyesal karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Bicara soal penyesalan tidak akan pernah ada habisnya.
Kita juga pastinya sudah bosan dengan pepatah, penyesalan selalu datang
terlambat.
Tiba-tiba saja kita menyesal karena saat menjelang ujian kita tidak
mempersiapkan diri dengan optimal. Padahal, kalau saja kita mengurangi
jatah di depan televisi, di game center, untuk belajar, pasti bisa lulus.
Ah, kalau saja kita berani tegas menolak pacar untuk menemani doi belajar
di rumahnya, berdua saja, pasti ini semua enggak akan terjadi! MBA deh...
aduh, andai saja ini semua enggak terjadi, pasti sekarang kita enggak akan
sedih begini.
Penyesalan selalu datangnya
TERLAMBAT!!
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kenapa penyesalan selalu datangnya terlambat?
Klise banget ya ngomongin soal ini.Dampak buruk dari apa yang kita lakukan saat ini biasanya enggak pernah kita hitung.
Ini terjadi karena ternyata kita lalai. Kelalaian yang sederhana begini
ini yang akhirnya sering membuat kita kelimpungan.
Karena kita lalai dalam belajar, akhirnya enggak lulus ujian. Atau karena
lalainya kita untuk mengatur waktu dan keuangan, anggaran kita jebol untuk
hal-hal yang ternyata enggak begitu penting. Kita lupa bahwa ada hal lain yang lebih penting. Andai saja kita tidak lalai dan berani bersikap tegas untuk mau disiplin dan mengikuti norma yang kita miliki, mungkin dampaknya tidak merusak masa depan, membubarkan mimpi-mimpi kita. Wah, serem banget ya...! Dan, itu semua hanya karena satu kata:
LALAI!
Kalau dilihat lebih jauh lagi ke belakang, ini semua terjadi karena ternyata kita tidak disiplin.
Ada banyak hal yang ternyata mengganggu dan mengalihkan perhatian dari semua hal yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita.Gangguan-gangguan ini ternyata sanggup mengalahkan diri kita, membuat kitajadi tergoda dan akhirnya malah membuat kita melenceng dari yang seharusnya.Misalnya saja, saat muncul godaan-godaan itu, yang ada dalam hati kita malah penyangkalan dan pembenaran atas apa yang seharusnya kita lakukan meskipun kita tahu itu tidak seharusnya kita lakukan. Saat seharusnya kita belajar, mungkin kata yang terbersit dalam hati adalah, Ah... sebentar lagi deh. Filmnya lagi seru nih, atau saat seharusnya langsung pulang, tapi malah memutuskan untuk mampir ke mal dulu, mungkin yang terbersit adalah, Iseng ah, lihat-lihat dulu. Boleh dong refreshing....Salah enggak sih? Ya salah. Sedih enggak? Ya sedihlah....
Tapi kita
kan enggak bisa terus-menerus bersedih. Walaupun penyesalan selalu datangnya terlambat, tapi bukan berarti kita boleh sedih sepanjang masa.
Okelah kalau saat ini kita gagal dalam ujian. Okelah saat ini nilai kita jeblok. Tapi, jangan sampai kejadian lagi deh gagal ujian yang sama sampai dua kali! Akhirnya kita harus bisa bangkit dan buktikan kalau kita bisa mengerjakan soal-soal itu jauh lebih baik. Sama juga halnya dengan kelalaian kita dalam hal manajemen waktu dan keuangan. Jangan mau lagi kebablasan di lain waktu.
Sekarang saatnya
BANGKIT !!!!
Namanya juga manusia.
Pasti pernah bikin kesalahan.
Jadi, melakukan kesalahan itu normal.
Menyesal belakangan juga normal.
Tapi, menjadi tidak normal ketika kita terlalu tekun menikmati penyesalan itu tanpa memikirkan jalan keluarnya. Tanpa bertekad untuk tidak mengulangi untuk yang kedua kalinya. Tahu enggak, Karena kita yang paling tahu diri kita, maka kita jadi punya super banyak alasan untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Kita jadi lupa pada rencana-rencana kita. Alasan-alasan nakal yang kita buat sendiri inilah yang bikin kita menyesal nantinya. Ngaku deh, pasti pada saat kita sibuk berargumentasi pada diri sendiri saat akan melakukan kesalahan, hati kecil bilang, Jangan! Tapi kita jalan terus.

Semua sudah terjadi.
Apa pun yang kita lakukan, kesalahan tetap kesalahan. Kita tidak akan pernah
bisa mentolerir semua bentuk kesalahan yang sudah kita lakukan. Lantas apa
yang bisa kita lakukan?

Terima dan akui bahwa kita memang melakukan kesalahan.

Kenali dan sadari apa kesalahan kita. Ini membantu kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Wake up, guys! Kesalahan yang telah lalu jangan jadi penghalang untuk memberi yang terbaik dari yang bisa kita berikan!

Tetapkan tujuan dan mulai melangkah dengan optimistis.

So, guys... bukan berarti kita jadi melegalkan semua kesalahan kita, lho.
Semua yang salah tetap salah. Hanya saja kita harus punya keberanian untuk
menatap hari esok, jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk sekadar
menyesali semua kelalaian kita.

Yang penting kemudian adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan
pengalaman-pengalaman ini untuk mengembangkan diri menjadi diri yang lebih
baik dalam hal pengendalian disiplin diri. Kalau kita bisa terpacu untuk menjadi lebih baik, pastinya tidak ada masalah yang tidak bisa kita atasi, bukan?

Sebenarnya semua godaan yang kita alami setiap hari itu membuat hidup kita
lebih indah. Kalau kita berhasil mengatasinya, kita bakal jadi manusia hebat. Sepuluh tahun ke depan, dunia ini akan jadi lebih baik karena berisi orang-orang hebat. KITA..!
  
Jangan Terlalu Terpaku pada Penyesalan

PERNAH menyesal? Merasa percuma? Memang.
Hanya menyesal memang percuma.
Karena yang lebih penting adalah memperbaikinya.

Siapa sih yang enggak pernah menyesal?
Ada saja hal-hal yang bisa bikin kita menyesal setengah mati.
Bayangkan, bagaimana enggak menyesal kalau sebenarnya ada banyak hal yangbisa kita lakukan seandainya kemarin kita tidak rajin buang waktu.
Kita menyesal karena kurang optimal hingga kemampuan kita hanya
begini-begini saja, padahal sebetulnya kita bisa lebih.
Atau kita menyesal karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Bicara soal penyesalan tidak akan pernah ada habisnya.
Kita juga pastinya sudah bosan dengan pepatah, penyesalan selalu datang
terlambat.
Tiba-tiba saja kita menyesal karena saat menjelang ujian kita tidak
mempersiapkan diri dengan optimal. Padahal, kalau saja kita mengurangi
jatah di depan televisi, di game center, untuk belajar, pasti bisa lulus.
Ah, kalau saja kita berani tegas menolak pacar untuk menemani doi belajar
di rumahnya, berdua saja, pasti ini semua enggak akan terjadi! MBA deh...
aduh, andai saja ini semua enggak terjadi, pasti sekarang kita enggak akan
sedih begini.
Penyesalan selalu datangnya
TERLAMBAT!!
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kenapa penyesalan selalu datangnya terlambat?
Klise banget ya ngomongin soal ini.Dampak buruk dari apa yang kita lakukan saat ini biasanya enggak pernah kita hitung.
Ini terjadi karena ternyata kita lalai. Kelalaian yang sederhana begini
ini yang akhirnya sering membuat kita kelimpungan.
Karena kita lalai dalam belajar, akhirnya enggak lulus ujian. Atau karena
lalainya kita untuk mengatur waktu dan keuangan, anggaran kita jebol untuk
hal-hal yang ternyata enggak begitu penting. Kita lupa bahwa ada hal lain yang lebih penting. Andai saja kita tidak lalai dan berani bersikap tegas untuk mau disiplin dan mengikuti norma yang kita miliki, mungkin dampaknya tidak merusak masa depan, membubarkan mimpi-mimpi kita. Wah, serem banget ya...! Dan, itu semua hanya karena satu kata:
LALAI!
Kalau dilihat lebih jauh lagi ke belakang, ini semua terjadi karena ternyata kita tidak disiplin.
Ada banyak hal yang ternyata mengganggu dan mengalihkan perhatian dari semua hal yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita.Gangguan-gangguan ini ternyata sanggup mengalahkan diri kita, membuat kitajadi tergoda dan akhirnya malah membuat kita melenceng dari yang seharusnya.Misalnya saja, saat muncul godaan-godaan itu, yang ada dalam hati kita malah penyangkalan dan pembenaran atas apa yang seharusnya kita lakukan meskipun kita tahu itu tidak seharusnya kita lakukan. Saat seharusnya kita belajar, mungkin kata yang terbersit dalam hati adalah, Ah... sebentar lagi deh. Filmnya lagi seru nih, atau saat seharusnya langsung pulang, tapi malah memutuskan untuk mampir ke mal dulu, mungkin yang terbersit adalah, Iseng ah, lihat-lihat dulu. Boleh dong refreshing....Salah enggak sih? Ya salah. Sedih enggak? Ya sedihlah....
Tapi kita
kan enggak bisa terus-menerus bersedih. Walaupun penyesalan selalu datangnya terlambat, tapi bukan berarti kita boleh sedih sepanjang masa.
Okelah kalau saat ini kita gagal dalam ujian. Okelah saat ini nilai kita jeblok. Tapi, jangan sampai kejadian lagi deh gagal ujian yang sama sampai dua kali! Akhirnya kita harus bisa bangkit dan buktikan kalau kita bisa mengerjakan soal-soal itu jauh lebih baik. Sama juga halnya dengan kelalaian kita dalam hal manajemen waktu dan keuangan. Jangan mau lagi kebablasan di lain waktu.
Sekarang saatnya
BANGKIT !!!!
Namanya juga manusia.
Pasti pernah bikin kesalahan.
Jadi, melakukan kesalahan itu normal.
Menyesal belakangan juga normal.
Tapi, menjadi tidak normal ketika kita terlalu tekun menikmati penyesalan itu tanpa memikirkan jalan keluarnya. Tanpa bertekad untuk tidak mengulangi untuk yang kedua kalinya. Tahu enggak, Karena kita yang paling tahu diri kita, maka kita jadi punya super banyak alasan untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Kita jadi lupa pada rencana-rencana kita. Alasan-alasan nakal yang kita buat sendiri inilah yang bikin kita menyesal nantinya. Ngaku deh, pasti pada saat kita sibuk berargumentasi pada diri sendiri saat akan melakukan kesalahan, hati kecil bilang, Jangan! Tapi kita jalan terus.

Semua sudah terjadi.
Apa pun yang kita lakukan, kesalahan tetap kesalahan. Kita tidak akan pernah
bisa mentolerir semua bentuk kesalahan yang sudah kita lakukan. Lantas apa
yang bisa kita lakukan?

Terima dan akui bahwa kita memang melakukan kesalahan.

Kenali dan sadari apa kesalahan kita. Ini membantu kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Wake up, guys! Kesalahan yang telah lalu jangan jadi penghalang untuk memberi yang terbaik dari yang bisa kita berikan!

Tetapkan tujuan dan mulai melangkah dengan optimistis.

So, guys... bukan berarti kita jadi melegalkan semua kesalahan kita, lho.
Semua yang salah tetap salah. Hanya saja kita harus punya keberanian untuk
menatap hari esok, jangan terlalu lama menghabiskan waktu untuk sekadar
menyesali semua kelalaian kita.

Yang penting kemudian adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan
pengalaman-pengalaman ini untuk mengembangkan diri menjadi diri yang lebih
baik dalam hal pengendalian disiplin diri. Kalau kita bisa terpacu untuk menjadi lebih baik, pastinya tidak ada masalah yang tidak bisa kita atasi, bukan?

Sebenarnya semua godaan yang kita alami setiap hari itu membuat hidup kita
lebih indah. Kalau kita berhasil mengatasinya, kita bakal jadi manusia hebat. Sepuluh tahun ke depan, dunia ini akan jadi lebih baik karena berisi orang-orang hebat. KITA..!


Jumat, 16 Maret 2012



ADAB MAKAN YANG DIAJARKAN NABI MUHAMMAD SAW

( SUHERI, MA )

-       Tidak makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang.
Kami, kata Nabi saw, adalah kaum yang tidak makan kecuali lapar dan berhenti sebelum kenyang.
-       Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Ibnu Majah dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Anas ra, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa menginginkan agar Allah memperbanyak kebaikan rumahnya, maka hendaklah ia berwudhu ketika santapannya datang dan diangkat."
-       Didahului Basmalah dan diakhiri Hamdalah.
Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah ra, Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda "Apabila salah seorang diantara kamu makan, hendaklah  ia menyebut Allah Ta'ala (Basmalah). Dan apabila  ia lupa menyebut nama Allah Ta'ala pada awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan, Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan akhirnya)."
-       Meneguk minuman tidak sekaligus.

Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kalian minum dengan sekali teguk seperti minumnya unta, tetapi minumlah dua atau tiga kali teguk. Dan bacalah Basmalah jika kalian minum, serta bacalah Hamdalah jika  kalian selesai minum."
-       Tidak mencela makanan.
Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa ia berkata " Rasulullah saw sama sekali tidak pernah mencela suatu makanan pun. Apabila beliau berselera terhadap makanan itu, maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak menyukainya maka beliau meningggalkannya."
-       Makan dengan tangan kanan dan mengambil makanan terdekat.

Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah ra, Ia mengatakan: "Pernah aku menjadi seorang budak di bawah pengawasan Rasulullah saw. Ketika (makan) tanganku bergerak di tempat makanan, Rasulullah saw menegurku,"Hai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat denganmu."
-       Tidak meniup minuman.
At-Tarmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa : "Nabi  saw telah melarang bernafas di dalam bejana atau meniup air di dalamnya." Meniup dan bernafas ketika minum dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
-       Makan dengan posisi tegak.

Muslim meriwayatkan dari Anas ra bahwa ia berkata: "Aku melihat Rasulullah saw duduk tegak ketika memakan buah kurma."
-       Sesuai kemampuan.
Muslim meriwayatkan dari Jabir ra bahwa, Nabi saw bertanya kepada keluarganya tentang lauk pauk. Mereka menjawab,"Kita tidak punya sesuatu selain cuka." Beliau memintanya dan memakannya sedikit, seraya bersabda, "Ya, lauk pauk adalah cuka. Ya, lauk pauk adalah cuka."

-       Duduk saat minum dan makan.
Muslim meriwayatkan dari Anas ra dari Nabi saw: "Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri. Qatadah berkata, "Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa itu lebih buruk."
-       Jangan kekenyangan.
Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: "Tidak ada suatu tempat hunian anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap saja, sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa ia harus berbuat, maka hendaknya sepertiga diisi untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya, serta sepertiga lagi diidsi untuk nafasnya."


Penulis : Dosen Luar Biasa Mata Kuliah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry 

Rabu, 14 Maret 2012

Tgk. Ahmad Dewi
TEUNGKU H. F. H. AHMAD DEWI


kisahnya sebagai berikut : 

Teungku Haji Fakir Hakir Ahmad Dewi seorang tokoh ulama pendakwah, lahir 19 Januari 1951 di Dusun Bantayan, Gampong Keude, Kecamatan Darul Aman, Idi Cut, Aceh Timur. Ayahnya Teungku Muhammad Husen berasal dari Desa Meunasah Kumbang, Kec. Syamtalira Aron Aceh Utara. Kakeknya Teungku Hasballah, ulama besar dari Samudera Pase yang digelar Teungku Chik di Meunasah Kumbang.

Teungku Hasballah Meunasah Kumbang menguasai Ilmu Tafsir, Bayan, Fiqh, Siyasah, dan Ilmu Mantiq. Tokoh berbadan atletis ini terkenal sebagai ulama moderat yang menguasai dengan baik bahasa Aceh, Perancis dan Inggris. Ketajaman pikirannya dikagumi oleh kawan maupun lawan. Pada saat perang kolonial Belanda di Aceh berkecamuk, beliau ikut bergabung dengan mujahidin lainnnya berperang di Samudera Pase. Selain itu beliau sangat ahli dalam Ilmu Faraid, ahli dalam hal dialog dan pidato, bakat ini sepenuhnya turun kepada Tgk. Ahmad Dewi.[1]

Ibunya bernama Dewi kelahiran Peudagee (Serdang Pedagai), Sumatera Utara, nama inilah yang kemudian menjadi nama belakang Teungku Ahmad Dewi. Nama lahir beliau adalah Ahmadullah, namun karena wajahnya yang mirip dengan ibunya, maka orang-orang mengaitkan dengan nama ibunya, disebutlah Ahmad Dewi. Akhirnya beliau lebih dikenal dengan nama Ahmad Dewi tinimbang Ahmadullah nama aslinya.

Pendidikan

Sekolah formal yang sempat ditempuh oleh Ahmad Dewi muda adalah Madrasah Ibtidaiyah Idi Cut. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Dayah, yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Matang Geutoe Idi Cut pada tahun 1964. Menurut sebuah informasi, Tgk. Ibrahim Bardan (Abu Panton) juga pernah belajar di dayah yang dipimpin oleh Tgk. H. Muhammad Thaib ini. Di dayah ini Ahmad Dewi diasuh di bawah bimbingan Abu Saleh (Pakcik Tgk. Ahmad Dewi/salah seorang anak Abu Meunasah Kumbang) yang juga menjadi guru di Dayah MTI. Abu Saleh dikenal sebagai kader militan yang kerap berurusan dengan aparat keamanan era Suharto.

Ahmad Dewi juga sempat menuntut ilmu di sebuah pesantren yang dipimpin oleh Tgk. H. Sofyan di Matang Kuli, sekitar tahun 1968 sampai 1970, setelah itu ia kembali ke Idi Cut. Saat itu dayah MTI tidak aktif lagi sepeninggal Tgk. Muhammad Thaib (w. 1968), dan kiblat pendidikan di Idi Cut telah beralih ke Dayah Darussa’dah Idi Cut di bawah pimpinan Tgk. H. Abdul Wahab. Pada masa ini Tgk. Ahmad Dewi juga sempat belajar pada Tgk. H. Abdul Wahab Idi Cut sambil bekerja mencari nafkah.

Faktor kesulitan ekonomi menuntut Ahmad Dewi untuk bekerja sambil belajar diusianya yang masih belia (sekitar 19 tahun). Ia memanfaatkan potensi diri dan bakat oratornya dengan bekerja sebagai pedagang obat kaki lima. Bagi Ahmad Dewi, berdagang obat juga media berdakwah, maka ia berkeliling Aceh sambil berdagang obat dengan tetap menjadikan dayah sebagai tempat domisilinya. Oleh karena itu, ia tetap menjadi santri dayah Idi Cut (Darussa’dah) dan Matang Kuli sebab ia bolak-balik melakukan perjalanan antara dua daerah ini.

Suatu kali dalam tahun 1973, pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga berkunjung ke Matang Kuli. Kunjungan ini memang kerap dilakukan Tgk. H. Abdul ‘Aziz (biasa disapa Abon Samalanga) karena Tgk. H. Sofyan (pimpinan dayah Matang Kuli) merupakan salah seorang murid Abon Samalanga. Keberadaan Teungku Ahmad Dewi muda menarik perhatian Abon setelah beliau tahu bahwa Ahmad Dewi adalah cucu Abu Meunasah Kumbang. Sejak saat itu Teungku Ahmad Dewi pun nyantri di Samalanga karena diajak oleh Abon untuk belajar di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Baru setahun belajar di Samalanga Teugku Ahmad Dewi telah menemukan jati dirinya dan, menentukan arah perjuangannya. Bakat orasi dan kapasitas keilmuannya semakin terasah di bawah bimbingan Abon Samalanga. Masa-masa belajar di Samalanga merupakan masa pembentukan karakter dirinya sebagai da’i kritis. Sambil belajar, Teungku Ahmad Dewi kerap diundang memberi pengajian dan ceramah di meunasah-meunasah Kecamatan Samalanga dan sekitarnya. Di sinilah popularitas Teungku Ahmad Dewi sebagai da’i bermula.

Masa berkarya

Perawakan yang tinggi tegap, wajah yang tampan dan bakat orasinya menarik perhatian masyarakat. Ditambah dengan gaya penampilannya yang menarik, kadang terkesan nyentrik, maka tidak heran jika dalam tempo singkat ia telah dikenal sebagai da’i yang memukau. Di sisi lain, darah ulama yang mengalir di tubuhnya dan latar belakang kependidikan di dayah terbesar Aceh (MUDI Mesjid Raya) memberinya legitimasi dan garansi keilmuan sebagai ulama yang patut menjadi rujukan bagi masyarakat. Ia diundang berdakwah ke seluruh daerah di Aceh, dan dakwahnya selalu dipadati pengunjung yang massanya berjumlah puluhan ribu. Ia menjelma menjadi publik figur yang ceramahnya ditunggu-tunggu masyarakat. 

Ketokohan sosok Teungku Ahmad Dewi menarik perhatian berbagai pihak dengan berbagai kepentingan. Sebuah informasi mengabarkan bahwa Teungku Hasan Tiro juga sempat mengadakan pertemuan khusus dengan Teungku Ahmad Dewi, di Jeunieb dalam masa-masa gerilyanya di Aceh. Ekses pertemuan ini, pada tahun 1977, Teungku Ahmad Dewi pun ditangkap aparat keamanan dalam penggerebekan di Dayah MUDI, Mesjid Raya, Samalanga karena diduga terlibat Aceh Merdeka (AM).

Teungku Ahmad Dewi ditahan di Markas Laksus Drien Meuduroe, Geulumpang Payong, Kabupaten Pidie. Selama dalam tahanan, masyarakat tiada henti berkunjung menjenguk beliau sampai akhirnya dipindahkan ke Banda Aceh (ditahan di daerah Lampineung). Pada masa ini beliau sempat diisukan telah meninggal dunia, masyarakat yang menjenguk tidak bisa bertemu beliau sehingga masyarakat di kampung-kampung melaksanakan shalat jenazah ghaib untuk Teungku Ahmad Dewi.

Setelah tiga bulan ditahan di Banda Aceh, datanglah seorang ulama Aceh Besar (Abu Usman Fauzi) yang kala itu aktif dalam partai politik Golkar (Golongan Karya). Setelah pertemuan itu, Abu Usman Fauzi membuat pendekatan dengan pihak aparat keamanan agar status tahanan Teungku Ahmad Dewi diringankan. Walhasil, Tgk. Ahmad Dewi menjadi tahanan rumah yang ditempatkan di dayah Abu Usman Fauzi di Desa Lueng Ie.

Setelah beberapa lama di Lueng Ie barulah pihak keluarga tahu bahwa Teungku Ahmad Dewi masih hidup, lalu menjenguknya ke Desa Lueng Ie. Pihak keluarga memohon agar penahanan Teungku Ahmad Dewi dipindahkan ke Idi Cut. Kesepakatan berhasil dicapai, pemindahan Teungku Ahmad Dewi disetujui dengan jaminan keluarga, dan status wajib lapor ke polsek setempat seminggu sekali.

Teungku Ahmad Dewi pulang ke kampung halamannya pada pertengahan tahun 1979, tapi rumah keluarganya telah tiada karena terbakar, tidak ada keterangan yang jelas mengenai sebabmusabab kebakaran ini. Maka Teungku Ahmad Dewi pun mendirikan sebuah gubuk di pertapakan gosong rumah orang tuanya. Gubuk itu sebenarnya peralihan fungsi dari tempat penyimpanan padi (kröng pade) milik orang tuanya.

Di gubuk itu Teungku Ahmad Dewi menerima satu dua santri yang datang berguru padanya. Karena rumah itu merupakan tempat tahanan baginya, maka ia menamakan rumah itu sebagai BTM (Balai Tahanan Militer). Ketika santrinya bertambah, ia berpikir untuk mendirikan dayah, dan nama BTM pun ditabalkan sebagai nama dayahnya, namun BTM kali ini berarti Bale Teumpat Meununtöt (Balai Tempat Menuntut ilmu).

Belakangan nama BTM menjadi trade mark Teungku Ahmad Dewi dalam setiap dakwahnya. Singkatan BTM muncul sebagai wujud inspirasinya yang tidak pernah kering, kadang konyol dan menyentil. Untuk murid-muridnya, BTM diberi kepanjangan Balai Tempat Menuntut ilmu, namun saat berhadapan dengan tokoh-tokoh parpol ‘plat kuning’ BTM diberi kepanjangan Beringin Tetap Menang.

Popularitas Teungku Ahmad Dewi sebagai da’i merupakan daya tarik tersendiri sehingga murid-muridnya bertambah banyak, terutama dari kalangan pemuda yang telah tersadarkan oleh dakwah beliau. Kehadiran para pemuda yang umumnya memendam jiwa militan ini menginspirasi Teungku Ahmad Dewi untuk mengorganisir mereka dalam satu barisan anti maksiat. Maka dibentuklah satu wadah yang diberi nama KDA (Kesatuan Dafa’sail Aceh), suatu organisasi yang bertujuan untuk melaksanakan dakwah amar makruf nahi munkar. Di sini nama BTM menemukan kepanjangan lain, karena dalam KDA ini ada satu pasukan khusus yang dinamakan Barisan Teuntra Mirah (BTM). Barisan ini memakai seragam merah, dibekali ilmu bela diri, dan dilengkapi senjata pedang.

Barisan Teuntra Mirah bertugas menertibkan dan mencegah maksiat di sepanjang garis pantai Idi Cut yang merupakan objek wisata masyarakat. Akibat dari aksi Barisan Teuntra Mirah, Teungku Ahmad Dewi seringkali harus berhadapan dengan aparat keamanan. Menurut keterangan seorang mantan Barisan Teuntra Mirah, masalah-masalah ini berhasil diselesaikan oleh Teungku Ahmad Dewi dengan jalan dialog.

Teungku Ahmad Dewi, bersama BTM; Barisan Teuntra Mirah-nya.



Pada tahun 1980, Teungku Ahmad Dewi kembali ditangkap setelah berdakwah di Idi Rayeuk, lokasinya di depan pendopo sekarang, menghadap ke masjid jamik. Dalam dakwah yang disesaki puluhan ribu pengunjung ini, ia dituduh subversif, dan ditahan di Langsa selama dua tahun tanpa putusan pengadilan.

Meskipun di penjara Tgk. Ahmad Dewi tetap berdakwah, hanya saja sasaran dakwahnya kali ini menjadi lebih spesifik, yaitu para penghuni rutan saja. Ia menggelar pengajian untuk mengajak narapidana bertobat kembali ke jalan Allah. Di sisi lain, penahanan itu justru mendongkrak popularitasnya, bahkan menjadi pemberitaan media nasional. Maka tidak heran jika setiap persidangan beliau dipenuhi ratusan ribu massa yang ingin meyaksikan jalannya persidangan sang dai.

Bersamanya juga turut ditahan Teungku H. Azhar BTM (wakil pimpinan dayah BTM). Setelah 1,8 tahun ditahan, Teungku Azhar disidang, lalu dibebaskan. Sementara Teungku Ahmad Dewi baru di bebaskan setelah lima bulan Tgk. Azhar menghirup udara kebebasan. Teungku Ahmad Dewi dijemput oleh masyarakat Sungai Pauh Langsa, dipeusijuek dan diantarkan ke dayahnya, BTM Idi Cut.

Awal tahun 1983, beliau memimpin kembali dayah BTM. Dayah yang sempat sepi semasa beliau ditahan, dengan drastis pelajarnya membludak sekembali beliau. Dalam tahun 1984, santri di dayah ini telah mencapai 400 orang santri putra putri.

Pada tahun 1985 ia berdakwah tujuh hari tujuh malam dalam rangka deklarasi pemerintahan syariat Islam di Aceh. Dakwah ini diselenggarakan dengan mengundang para ulama dari berbagai penjuru Aceh untuk mencari solusi petegakan syariat Islam di Aceh.

Pada tahun 1986 beliau menikath dengan Cut khairiyah binti Tgk. H. Muhammad Thaib, Paloh Meria Lhokseumawe. Beliau terus menetap di dayah BTM bersama keluarganya, dan dikaruniai putera pertama yang diberi nama Fatahillah (1987), anak kedua Fatimah Dewi (1989).

Meninggalnya Tgk. Ahmad Dewi

Pada hari Sabtu, 1 Maret 1991 pukul 09.00 wib, Tgk. Ahmad Dewi menerima surat dari abangnya Tgk. Muhsinullah. Ia diminta segera menjenguk abangnya yang sedang ditahan pasukan TNI di Tank Batre, Desa Alue Ie Mirah. Tgk. Ahmad Dewi berangkat dengan mengendarai mobil Chevrolet bersama supir bernama Asnawi.

Pada waktu itu Aceh berstatus siaga, Operasi Jaring Merah dilancarkan di Aceh. Sejak kepergian hari itu, Teungku Ahmad Dewi tidak pernah muncul lagi di atas podium meyuarakan tegaknya syariat Islam di Aceh.

Walaupun Teungku Ahmad Dewi telah tiada, pengikut-pengikut setianya selalu memperjuangkan agar di Aceh diberlakukan syariat Islam. Akhirnya pemerintah mengumumkan pemberlakuan syariat Islam di bumi Serambi Mekkah ini. Namun Teungku Ahmad Dewi sebagai tokoh pelopor pemberlakuan syariat Islam di Aceh, sampai hari ini tidak diketahui di mana kuburannya.

Tgk Ahmad Dewi meniggalkan seorang isteri dan tiga orang anak, Fatahillah, Fatimah Dewi, dan Abdul Aziz yang kala peristiwa penculikan itu masih tiga bulan dalam kandungan. Nama Abdul ‘Aziz merujuk kepada nama guru beliau di Samalanga (Abon ‘Abdul ‘Aziz Samalanga). Tgk. Ahmad Dewi telah mewasiatkan nama ini sebelum kepergiannya. Beliau berpesan kepada isterinya, jika anaknya laki-laki agar diberi nama ‘Abdul ‘Aziz.