SAHABAT, di bulan Rabi'ul Awal ini tentunya kita dituntut untuk
mempersiapkan diri kita, baik jasmani maupun rohani. Mungkin sahabat pun tahu
kalau di bulan suci ini, seluruh tenaga dan pikiran kita dioptimalkan untuk
beribadah. Belum lagi kalau aktifitas kita juga beriringan dengan aktifitas
yang lain seperti bekerja atau sekolah. Hal ini tentu akan terasa sangat
melelahkan.
Tidak jarang dengan kondisi yang demikian, di dalam pergaulan wajah kita
terlihat seolah-olah tidak bersemangat, tidak menunjukkan keramahan, enggan
berbicara dan lebih banyak memfokuskan hatinya untuk berdzikir kepada ALLAH.
Kita harus menyadari bahwa di sekeliling kita pun ada orang lain, dimanapun
kita berada, baik di tempat bekerja, menuntut ilmu (kampus atau sekolah), yang
senantiasa berinteraksi dengan kita. Ada teman, guru, atasan, dosen, dan yang
lainnya.
Bayangkan...!! Mereka pun manusia, ingin merasa dihormati dan dihargai.
Merekapun ingin mengasih dan ada pula yang ingin memberi. Bagaimana jadinya
kalau di tengah mereka itu kita menunjukkan ketidakceriaan yang disebabkan
karena menahan haus dan lapar disaat kita berpuasa? Boleh jadi ada yang akan
tersakiti karena sikap kita yang tidak ramah. Lebih dari itu, mungkin ada
beberapa di antara mereka yang enggan berkomunikasi dengan kita karena melihat
raut muka kita yang kurang menyejukkan dan meneduhkan pandangan.
Kalau sudah demikian, amatlah merugi diri kita. Sudahlah kita menahan haus dan
lapar, ditambah lagi dijauhi oleh orang. Yang lebih parah lagi adalah ada yang
akhirnya memusuhi kita sebagai akibat dari tampilan wajah kita yang kurang
menyenangkan tersebut. Wah…tidak enak sekali kedengarannya. Pasti akan
terbayang di benak kita orang yang tidak bisa menunjukkan keramahan seperti itu
tentu akan menjadi pribadi muslim yang angkuh, menutup diri dan tidak pernah
mau mengenal orang lain. ALLAH tidak akan suka dengan pribadi yang seperti ini.
Lalu bagaimana solusinya supaya bulan puasa ini tidak akan menjadi bulan
kesengsaraan buat kita? Rasulullah mengajarkan bahwa senyum itu adalah bagian
dari ibadah. Bahkan ada yang mengatakan lagi, senyum itu adalah sedekah. Ingat, sedekah adalah
memberikan sesuatu kepada orang lain untuk menolong seseorang agar senang
hatinya. Bisa dikatakan juga, bahwa senyum itu adalah salah satu cara untuk
membahagiakan diri sendiri.
Dengan kita selalu tersenyum, hati kita akan terasa sejuk dan tentram.
Apabila ada suatu hal atau kejadian yang buruk terjadi dalam keseharian kita,
kitapun mampu menghadapinya dengan tenang, menganggap hal tersebut bukan
sebagai hal yang menggemparkan…Hanya karena kita menghadapinya dengan senyuman.
Apa yang telah dicontohkan Rasul sungguhlah luar biasa. Hal itu bisa kita
terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama dibulan suci Ramadhan ini.
Kemanapun dan dimanapun, Rasulullah senantiasa tersenyum, bahkan terhadap orang
yang memusuhinya sekalipun.
Maka, demikian pula dengan kita yang sedang menjalankan ibadah puasa, banyak
sekali manfaatnya apabila orang yang bisa berpuasa sambil tersenyum. Manfaat
yang pertama, ibadah puasanya diterima oleh Allah dan yang kedua dia dicintai
serta disenangi oleh sesamanya.
Pribadi yang demikian akan menjadi contoh bagi orang lain untuk melakukan hal
yang sama. Dia akan disenangi oleh teman, guru dan orang disekitarnya.
Seseorang yang bermasalahpun, ketika bertemu dengan orang yang berkepribadian
demikian, pastilah hatinya akan terhibur dan mungkin sedikit membantu
meringankan bebannya.
Tetapi senyum tidaklah cukup. Sebab senyum disini ada beberapa macam. Ada
senyum terpaksa, senyum pura-pura yang tidak memiliki, ada yang karena dibayar,
karena mengharapkan sesuatu. Senyum yang manakah yang akan kita tampilkan?
Tentulah senyum yang keluar dari seorang pribadi muslim yang terjaga kebersihan
hatinya dan hati yang senantiasa berdzikir kepada ALLAH, serta menunjukkan
keikhlasan dalam setiap perbuatannya.
Maka orang yang memiliki kepribadian demikian, apabila ia tersenyum maka
senyumnya akan terlihat indah dan menyejukkan hati, setiap orang yang memandangnya
akan terpesona dengan senyumnya. Ia tersenyum bukan hanya sekedar tersenyum,
tetapi senyum sebagai bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah.
Akhlak yang bagaimanakah? Akhlak yang selalu memperlihatkan tutur kata yang
baik, mengasihi sesama, santun, pandangan yang meneduhkan, tidak sombong, tidak
merasa diri paling benar, dan lain sebagainya. Insya Allah, orang yang seperti
itu senyumannya akan memiliki arti bagi orang lain. Sungguhlah mulia orang
memiliki senyuman demikian.
Jadi, betapa penting ternyata memelihara senyum dalam rangka menyempurnakan
kesucian ibadah kita. Sangat beruntunglah orang yang senantiasa tersenyum dalam
keadaan apapun dan dalam situasi yang seperti apapun. Terlebih jika ia sedang
melaksanakan puasa.
Mudah-mudahan kita tergolong menjadi orang yang selalu dicintai, disenangi dan
dirindukan oleh sesama sebagai hasil dari kekuatan senyum yang bernilai ibadah.
Amin ya rabbal alamiin!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar